Apakah TradFi Membuat Kripto Lebih Aman... atau Justru Lebih Berbahaya?

Teori – Adopsi Institusional Membawa Risiko Sistemik
Seiring keuangan tradisional (TradFi) berbondong-bondong masuk ke kripto, sebagian pengamat pasar mulai membunyikan alarm. Kekhawatirannya: semakin dalam institusi masuk, semakin besar kemungkinan risiko sistemik kripto menyebar ke sistem keuangan yang lebih luas.
Sebuah teori kini banyak beredar di kalangan analis, trader, dan skeptis kripto. Bahkan ada yang membandingkannya dengan krisis 2008. Mari kita uraikan apa yang mereka katakan—lalu Anda bisa menilai sendiri.

Isi Teori: Wall Street Mungkin Sedang Mengulang 2008
Menurut para pengkritik, adopsi kripto institusional secara diam-diam membawa kerapuhan ala TradFi ke dalam kripto. Argumen utama mereka?
Bitcoin, aset yang sangat volatil, dikemas seolah-olah “aman” lewat struktur seperti ETF spot.
Berikut yang mereka soroti:
- BlackRock menguasai porsi besar pasokan BTC lewat iShares ETF miliknya (IBIT), mengemas Bitcoin ke dalam dana yang diatur regulator.
- Strategi treasury milik Strategy menempatkan hampir 600.000 BTC dengan leverage—memicu kekhawatiran likuidasi paksa jika harga turun.
- Fidelity dan pihak lain kini menawarkan kripto dalam program 401(k) dan portofolio pensiun, menciptakan jalur eksposur baru.
Langkah-langkah ini, menurut mereka, membuat kripto tampak stabil padahal tidak—persis seperti efek mortgage-backed securities sebelum 2008. Sebagian bahkan menyebut ETF dan “proksi Bitcoin”, yakni perusahaan publik yang memanfaatkan leverage atas sahamnya untuk memberi investor eksposur tidak langsung ke Bitcoin, sebagai “CDO 2.0”.
Kami tidak membenarkan analogi tersebut—tetapi ia beredar di kalangan keuangan, dan logikanya layak dipahami.
Argumen “Ilusi Keamanan”
Kekhawatirannya berjalan seperti ini:
- ETF Bitcoin spot menerbitkan saham yang terkait dengan cadangan BTC. Jika harga anjlok, ETF melakukan penjualan. Hal itu kemudian menyeret turun portofolio dan dana pensiun.
- Karena ETF ini diatur regulator, mereka terasa aman—namun aset dasarnya (Bitcoin) tetap volatil dan sangat spekulatif.
Para pengkritik menyebut ini sebagai risiko TradFi pada kripto: kerentanan sistemik yang tersembunyi di dalam produk yang tampak familier bagi investor ritel.
Risiko Lain yang Disorot Pengamat
Mereka yang membunyikan alarm juga menunjuk pada:
- Risiko kustodian: Jika Coinbase, kustodian ETF BlackRock, mengalami masalah, miliaran dolar BTC bisa terkunci.
- Kesenjangan transparansi: Pemegang on-chain dapat mengaudit koin mereka. ETF tidak memperbarui kepemilikan secara real-time.
- Ketidakcocokan model: Kerangka risiko lama mungkin melewatkan bug protokol, krisis likuiditas, atau flash crash.
Kesimpulan mereka: semakin kripto dibungkus dalam struktur TradFi, semakin rentan ia terhadap pola kegagalan keuangan tradisional.
“Too Big to Dump”?
Argumen lain yang sering terdengar: konsentrasi kepemilikan institusional membuat pasar rapuh.
- BlackRock, Strategy, dan segelintir pihak lain menguasai porsi besar Bitcoin. Jika salah satunya terpaksa menjual—karena margin call, regulasi, atau masalah likuiditas—aksi keluar mereka bisa membanjiri pasar.
- Lebih dari 82 perusahaan publik kini memegang BTC, dengan total 656.000+ koin per awal 2025.
Para pengamat ini mengatakan bahwa jika satu pemain besar melepas asetnya, semua ikut merasakan dampaknya—terutama jika BTC terkait dengan dana pensiun atau cadangan pemerintah.
Paralel dengan 2008—atau Sekadar Paranoia?
Agar adil, tidak semua orang setuju dengan perbandingan ini. Namun inilah retorika yang digunakan:
- “Kalau Lehman memegangnya, kita kira itu aman.” Kini berubah menjadi: “Kalau BlackRock memegang BTC, pasti terpercaya.”
- “Paper Bitcoin” mulai menjadi tren—seperti “paper gold”. Para pengkritik mengatakan hal ini mengaburkan penemuan harga dan membuka pintu manipulasi pasar.
- Sebagian bahkan lebih jauh, menyebut institusi bisa melakukan “rug pull” terhadap ritel dengan menjual ke dalam gelombang pembelian yang didorong FOMO setelah ETF terisi penuh.
Kami tidak mengatakan hal ini sedang terjadi. Namun kekhawatiran itu beredar—dan memengaruhi cara sebagian orang memandang keterlibatan institusi.
Kekhawatiran Makro yang Menumpuk
Di atas semua itu, para skeptis menyoroti sinyal makro:
- Dolar AS turun 9,36% YTD meski suku bunga tinggi, yang (menurut mereka) mengisyaratkan pergeseran likuiditas terselubung.
- Perang yang berlanjut dan inflasi dapat mendorong institusi masuk ke BTC sebagai lindung nilai—bukan karena keyakinan, melainkan demi keuntungan jangka pendek.
Mereka berargumen bahwa jika keadaan memburuk, institusi yang sama bisa keluar dengan cepat—memperparah keruntuhan.
Jadi, Apa Kesimpulannya?
Meski risiko-risiko ini belum pasti terjadi, penting untuk memahami narasi yang terbentuk seputar risiko TradFi pada kripto.
Yang jelas:
- Taruhannya kini lebih tinggi.
- Adopsi kripto institusional bukan lagi sekadar teori—ia nyata dan semakin cepat.
- Jika ada yang runtuh, dampaknya tidak akan berhenti di kripto—bisa merembet ke bank, dana investasi, bahkan mungkin rekening pensiun.
Seperti kata seseorang: “Ketika hiu mulai berdansa, ikan kecil dimakan lebih dulu.”
Argumen yang Mendukung Teori – Bagaimana TradFi Dapat Mengguncang Stabilitas Kripto dan Keuangan
Bagian ini menguraikan alasan sebagian analis percaya bahwa adopsi kripto institusional justru bisa membuat pasar lebih berisiko, bukan lebih aman.
Risiko #1 – Konsentrasi Kepemilikan & Dampak Pasar
Mari mulai dari gajah di dalam ruangan: segelintir raksasa TradFi kini menguasai porsi besar pasokan Bitcoin. Kedengarannya bullish—sampai suatu saat tidak lagi.
- Strategy sendiri memiliki ~2,82% dari seluruh BTC. Itu lebih dari 592.000 BTC, yang sebagian besar dibeli dengan leverage.
- ETF IBIT milik BlackRock menyimpan sekitar 683.470 BTC, atau 3,42% dari pasokan, atas nama para penggunanya. Ini bukan ritel—ini bobot sekelas Wall Street.

Kekhawatirannya: bagaimana jika salah satu pemain besar terpaksa menjual?
- Margin call, penindakan regulator, atau bahkan keadaan darurat keuangan dapat memicu likuidasi massal.
- Ketika whale melepas asetnya, harga anjlok—cepat. Dan ketika pemegangnya sebesar ini, riak berubah menjadi gelombang kejut.
Matthew Sigel, kepala riset aset digital di VanEck, menjelaskannya dengan gamblang:
“Erosi modal adalah kekhawatiran nyata—terutama bagi perusahaan yang menerbitkan saham baru atau berutang untuk membeli Bitcoin.”
Ia menunjuk kasus seperti Semler Scientific, yang harga sahamnya turun lebih dari 45%—bahkan saat Bitcoin naik—akibat dilusi pemegang saham dan ekspansi keuangan yang berlebihan.
Bank Sentral Eropa menyatakannya secara lugas:
“Risiko sistemik meningkat seiring dengan tingkat keterkaitan antara aset kripto dan sektor keuangan tradisional.”
Inilah salah satu risiko inti TradFi pada kripto—jika terlalu banyak kekuatan terkonsentrasi di terlalu sedikit tangan, satu kesalahan langkah bisa merugikan semua orang. Anda mungkin tidak terpapar secara langsung, tetapi broker, dana investasi, atau pemerintah Anda bisa jadi terpapar. Begitulah sistemiknya situasi ini.
Risiko #2 – Contagion antara Pasar TradFi dan Kripto
Bayangkan ini: sesuatu runtuh di kripto, dan dampaknya tidak berhenti di kripto. Itulah contagion—dan kita sudah pernah melihatnya terjadi.
Ingat keruntuhan SVB di awal 2023?
- Peristiwa itu membekukan cadangan USDC senilai $3,3 miliar, membuat salah satu stablecoin paling tepercaya kehilangan peg hingga $0,88.
- Kepanikan pun menyusul. Pasar terjun bebas. Sebuah “pengecualian risiko sistemik” harus diberlakukan hanya untuk menstabilkan keadaan.
Dampaknya tidak berhenti di situ.
- Regulator seperti European Securities and Markets Authority (ESMA) memperingatkan bahwa integrasi yang lebih dalam antara kripto dan TradFi dapat memperkuat efek limpahan pada krisis berikutnya.
- Semakin erat kaitannya, semakin cepat penularan menyebar.
Momen-momen ini mengingatkan kita bahwa kripto tidak lagi terpisah. Ia sudah terjalin dengan bank, platform fintech, dana pensiun—apa saja. Itulah mengapa memahami risiko sistemik kripto itu penting.
Jadi, ketika orang berbicara tentang risiko trading kripto, inilah maksudnya: meskipun Anda hanya menonton dari pinggir, Anda tetap bisa terkena dampaknya.
Risiko #3 – Struktur “CDO 2.0” Berbasis ETF
Mari bahas perbandingan yang mungkin paling diperdebatkan: apakah ETF Bitcoin saat ini adalah versi terbaru dari CDO tahun 2008?
Sebagian pengkritik menjawab ya—dan inilah alasannya:
- ETF Bitcoin spot, seperti IBIT milik BlackRock, tidak hanya menyimpan BTC—mereka menerbitkan saham yang didukung BTC.
- Saham ini diperdagangkan seperti saham biasa. Namun aset yang mendasarinya sangat volatil.
Sekarang bayangkan skenario ini:
BTC anjlok — saham ETF turun — penebusan melonjak — lebih banyak BTC dijual — harga jatuh lebih dalam. Itulah spiral likuiditas, dan itulah yang oleh para peragu disebut “bom ekonomi”.
Tambahkan leverage, likuiditas tipis, atau guncangan geopolitik? Boom.
ETF bersifat transparan dan diatur. Kekhawatirannya bukan penipuan, melainkan struktur. Para pengkritik mengatakan ETF mengemas ulang kripto menjadi produk tradisional yang tampak stabil, padahal tidak. Inilah inti risiko TradFi pada kripto ini: instrumen Wall Street yang dibangun di atas sesuatu yang jauh dari stabil.
Itulah sebabnya sebagian menyebutnya “CDO 2.0”—bukan karena identik, tetapi karena memiliki ciri berbahaya yang sama: rasa aman yang semu.
Risiko #4 – Kerapuhan Kustodian dan Kesenjangan Transparansi
Kita sering membahas pentingnya memegang kunci sendiri, dan ada alasannya. Institusi? Mereka mengalihdayakan tanggung jawab itu—kepada kustodian seperti Coinbase dan Fidelity Digital Assets.
Kedengarannya aman, bukan? Tapi jangan lupakan FTX.
- Pada 2022, ketika FTX runtuh, miliaran dana pengguna dibekukan. Seluruh bisnis kehilangan akses dalam semalam.
- Sekarang pertimbangkan bahwa ETF BlackRock bergantung pada Coinbase sebagai kustodian. Jika terjadi masalah di sana, apa yang terjadi pada semua BTC itu?
Perlu diketahui, kustodian tradisional jarang menyediakan proof-of-reserves on-chain. Artinya, investor mempercayai laporan kuartalan, bukan data yang dapat diverifikasi.
Inilah salah satu risiko tersembunyi dalam trading kripto melalui jalur TradFi—kesenjangan transparansi dan kerapuhan kustodian dapat berubah menjadi risiko sistemik dalam semalam.
Ingin ketenangan pikiran? Carilah audit cadangan secara real-time—bukan sekadar logo dan gugatan hukum.
Risiko #5 – Eksposur Dana Pensiun
Ini pikiran yang menakutkan: bagaimana jika nenek Anda memiliki Bitcoin tanpa menyadarinya?
Itu mungkin terjadi—berkat dana pensiun, 401(k), dan program investasi negara bagian yang kini memasukkan kripto.
- Sejak 2022, beberapa program 401(k) menawarkan eksposur BTC.
- Dana pensiun negara bagian telah membeli saham terkait kripto atau ETF untuk diversifikasi.
- Bahkan New Hampshire membangun cadangan kripto tingkat negara bagian.
Risikonya? Jika harga kripto anjlok, tabungan pensiun ikut terpukul. Orang yang bahkan tidak pernah menyentuh dompet digital pun bisa rugi.
Itulah sebabnya regulator mendorong usulan untuk membatasi atau melarang eksposur kripto dalam portofolio pensiun. Ini upaya membatasi risiko di titik yang paling rawan.
Ini salah satu contoh paling jelas dari adopsi kripto institusional yang terlalu jauh dan terlalu cepat. Ketika dana pensiun ikut terpapar, urusannya bukan lagi sekadar trading spekulatif—melainkan keamanan finansial di dunia nyata.
Argumen yang Menentang Teori – Mengapa Adopsi Kripto Institusional Bisa Berdampak Positif
Tidak semua orang percaya pada narasi kiamat ini. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa adopsi institusional bukanlah kehancuran kripto—melainkan peningkatan yang selama ini kita tunggu.
Mari kita lihat bantahan terhadap teori “risiko sistemik” dan alasan sebagian orang yakin bahwa adopsi kripto institusional mungkin merupakan peluang terbaik kripto untuk masuk arus utama dan berkembang dengan bertanggung jawab.
Argumen #1 – Legitimasi yang Lebih Kuat dan Akses Arus Utama
Ingin membuat sesuatu tampak sah? Dapatkan persetujuan Wall Street. Itulah yang terjadi ketika nama-nama terbesar di dunia keuangan mulai beralih ke Bitcoin.
- Larry Fink, CEO BlackRock—yang dulu skeptis—kini menyebut Bitcoin “emas digital” dan “aset internasional.”
- Fidelity, yang jauh lebih awal, telah menawarkan eksposur Bitcoin sejak 2014 dan mendorong BTC masuk program 401(k) pada 2023.
Ini penting. Ketika institusi merangkul kripto:
- Investor ritel merasa lebih aman untuk masuk.
- Akses 401(k) menjadikan Bitcoin bagian dari perencanaan pensiun.
- Integrasi dengan broker menjadikan kripto sekadar aset lain di dasbor.
Sebuah survei CoinShares pada Juni 2025 menemukan bahwa 82% investor kaya di AS lebih memilih penasihat keuangan yang menawarkan strategi kripto, dengan 88% responden saat ini bekerja dengan penasihat dan 58% menganggap mereka sebagai sumber paling tepercaya untuk informasi aset digital.

Survei tersebut mengungkap bahwa di antara investor yang belum terlibat dalam kripto, 78% individu dengan kekayaan di bawah kategori high-net-worth dan 93% individu high-net-worth akan berkonsultasi dengan penasihat mereka sebelum berinvestasi di kripto, sementara 49% akan aktif mencari penasihat dengan keahlian kripto yang terbukti.
Inilah jenis pembangunan kepercayaan yang tidak dimiliki industri ini di masa wild west-nya. Penerimaan publik terhadap Bitcoin terus tumbuh, bukan karena meme, tetapi karena raksasa yang diatur regulator mulai membawanya masuk.
Argumen #2 – Likuiditas Lebih Besar dan Volatilitas Lebih Rendah
Per Juni 2025, ETF Bitcoin spot AS memegang lebih dari 6% pasokan BTC. Itu angka besar, dan telah mengubah perilaku pasar.
Lebih banyak modal institusional = lebih banyak likuiditas. Dan itu berarti:
- Transaksi besar tidak menggerakkan pasar sebanyak dulu.
- Bid-ask spread lebih sempit, berkat market maker profesional.
- Arbitrase antara ETF dan pasar spot menjaga harga tetap selaras.
- Mitigasi risiko—seperti stop-loss dan hedging—membantu mengurangi fluktuasi liar.
Ini bukan sekadar menyimpan BTC di cold wallet. Ini tentang menghadirkan infrastruktur kelas profesional ke ruang yang dulu panik setiap akhir pekan.
Hasilnya seharusnya berupa indeks harga kripto yang lebih stabil—terutama pada periode tekanan tinggi, seperti yang kita lihat di awal 2023.
Jadi, meski ritel mungkin membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah, institusi justru menghaluskan kurva, bukan melonjakkannya.
Argumen #3 – Tata Kelola dan Pengawasan yang Lebih Kuat
Mari akui saja—kripto membutuhkan orang dewasa di ruangan. Itulah yang dibawa TradFi.
Setelah FTX runtuh, semua sepakat: minimnya pengawasan adalah bencana. Sekarang?
- Kongres AS secara aktif mempertimbangkan kerangka regulasi stablecoin yang komprehensif, termasuk rancangan undang-undang seperti STABLE Act yang direvisi dan GENIUS Act.
- Uni Eropa telah mengatur stablecoin sepenuhnya dan terus menerapkan Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA).
- Tren global kini mencakup pengawasan yang lebih ketat terhadap stablecoin, penguatan langkah anti pencucian uang (AML), dan integrasi kripto dengan keuangan tradisional. Tata kelola data juga diprioritaskan demi perlindungan konsumen.
Anda tidak lagi mempercayakan kunci Anda kepada seseorang di Bahama. Anda berurusan dengan entitas teregulasi yang menjalani audit, memegang cadangan modal, dan harus bertanggung jawab kepada regulator.
Itu tidak menghilangkan risiko, tetapi jelas lebih baik daripada permainan perusahaan cangkang di luar negeri.
Dan pasca-FTX? Struktur hati-hati TradFi terasa kurang seperti birokrasi dan lebih seperti akal sehat.
Argumen #4 – Penggunaan Strategis dalam Portofolio Global
Mari melihat gambaran besar. Ini bukan hanya soal hedge fund yang membeli saat harga turun. Ini tentang bagaimana Bitcoin menjadi bagian dari perangkat makro dunia.
- El Salvador menjadikan Bitcoin alat pembayaran sah pada 2021 dan terus membeli BTC baru meskipun ada ketentuan dalam kesepakatan IMF.
- Bhutan diam-diam menambang BTC menggunakan tenaga air.
- Bahkan pemerintah AS kini mengusulkan cadangan Bitcoin di beberapa negara bagian.
Dan ya, perusahaan-perusahaan memainkan permainan yang sama.
Apa intinya? Bitcoin bukan lagi sekadar aset spekulatif. Ia digunakan:
- Sebagai lindung nilai treasury di kawasan dengan inflasi tinggi.
- Sebagai langkah diversifikasi dalam cadangan global.
- Sebagai penyimpan nilai ketika keuangan tradisional tampak goyah.
Butuh contoh? Saat kepanikan perbankan Maret 2023, Bitcoin melonjak sementara saham bank anjlok—menghidupkan kembali narasi “emas digital” secara nyata.
Itu bukan hype. Itu strategi.
Pihak Mana yang Lebih Kuat?
Sejujurnya, kripto tidak “ditakdirkan hancur” maupun “diselamatkan” oleh TradFi. Situasinya lebih rumit dari itu. Sebagian risiko memang nyata. Namun begitu pula perlindungan yang sedang dibangun. Jika Anda sudah cukup lama berkecimpung, Anda pasti melihat betapa jauh kripto berkembang sejak 2017. Kini tambahkan Wall Street, aturan global, dan pengawasan sungguhan—tiba-tiba, ini bukan lagi sekadar suasana dan volatilitas.
Kita semua sudah mendengar peringatannya: keruntuhan sistemik, CDO 2.0, rug pull ETF. Namun jika dilihat lebih dekat, gambarannya lebih bernuansa.
Inilah kenyataannya:
- Risiko TradFi pada kripto memang ada—tetapi banyak di antaranya sudah ditangani.
- Aturan dan kebijakan berupaya menciptakan ruang yang lebih teregulasi bagi investor.
- Kustodian semakin profesional. Pemain seperti Fidelity Digital Assets dan BNY Mellon memisahkan aset, mengasuransikan simpanan, dan mengikuti protokol ketat.
Mari luruskan satu kesalahpahaman besar: ETF Bitcoin spot tidak sama dengan CDO 2008.
- CDO membundel utang buruk dan menyamarkannya dengan peringkat palsu.
- ETF spot transparan, diaudit, dan didukung 1:1 oleh BTC asli. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang sintetis.
Lalu teori “rug pull BlackRock”? Itu drama, bukan data.
- BlackRock beroperasi di bawah lapisan mandat kepatuhan, audit, dan perlindungan klien.
- Mereka tidak berbisnis dengan aksi jual bermodal leverage ala YOLO—mereka mengelola uang orang lain, dan itu datang dengan aturan.
Risiko sistemik kripto sedang dibentuk, bukan diabaikan. Manajemen risiko sedang mengejar ketertinggalan. Dengan cepat.
Kesimpulan Akhir
Jangan menipu diri sendiri—adopsi kripto institusional tidak membuat Bitcoin aman.
Tetapi ia membuatnya lebih aman.
- Ketika Fidelity, Tesla, dan pemerintah AS memegang BTC, mereka mengirim sinyal legitimasi dan kematangan.
- Ya, arus dana institusional menciptakan dukungan harga—tetapi mereka juga bisa pergi dengan cepat. Itu bagian dari permainan.
Meski begitu, kegagalan terbesar yang pernah kita lihat—FTX, Celsius, Terra—bukan berasal dari TradFi. Semuanya berasal dari DeFi tanpa regulasi yang meniru TradFi tanpa pagar pengaman. BlackRock tidak melelehkan pasar. Shadow bank yang melakukannya.
Jadi, jika Anda mencari di mana bahaya sebenarnya berada—kemungkinan besar bukan di ETF. Melainkan di sudut-sudut yang masih berpura-pura menjadi bank, tanpa bertindak seperti bank.